"Woe..Ra, udah ngoyot gue nungguin lo ! KLIK
Bella langsung memutus teleponnya. Udah hampir setengah jam Bella menunggu Mara di depan lapangan basket sekolah. Walaupun, ini udah menjadi kebiasaan Mara yang selalu pulang ngaret karena ada rapat dengan tim cheers nya. Bella kemudian duduk bersila di pinggiran lapangan basket dan tidak memperdulikan sinar matahari yang siap membakar kulitnya. Bella mulai memasang earphone dan membaca buku favoritnya, yaitu komik. Tiba-tiba hape Bella bergetar. Trrrrrrrt..trrrrrt.. ada sms masuk
From : MARA
Bel, dimana sih lo ? gue udah di parkiran
Gimana sih ni anak , katanya suruh nungguin di lapangan basket, kenapa dia ke parkiran. Kena virus amnesia dadakan deh kayaknya, Batin Bella. Sesigap mungkin Bella berdiri dan berjalan sambil memasukkan handphone nya ke dalam tas.
***
“Woe Mar,, lo gimana sih ? katanya nyuruh gue nunggu di Lapangan Basket kenapa jadi di parkiran ?” Mata Bella spontan melotot, dahinya mengkerut dan kedua tangannya di pinggang. “Sabar bos, iyee Bel, sorry sorry .. tadi Andri ngajakin gue ngobrol, eh gak sengaja udah sampe aja di parkiran. Masak iya lo tega suruh gue balik ke lapangan basket, kan entar ujung ujung nya kita juga perkiran kan beb!!” Mara nyengir kuda bersikap seolah-olah dia tidak bersalah. “Bab beb bab beb pala lo !! Andri lagi Andri lagi.. hiih.. udah berapa kali lo tinggalin gue Cuma gara-gara Andri ?” Kata Bella kesal dan nada suaranya meninggi. “Iyee dah.. maap ya Bell, janji deh ini yang terakhir!” Muka Mara dibuat memelas, dan tangan kanan Mara merangkul pundak sahabatnya itu. “Ok deh Mar, gue maafin lo, tapi lo harus traktir gue es krim ! gimana?” Bella menjawab dengan nada bercanda dan menggoda Mara. “Sial lo !” Raut wajah Mara berubah menjadi wajah tak ikhlas.
Sementara Bella fokus pada setir dan lalu lintas yang cukup padat pada siang hari itu, Mara sibuk nyerocos menceritakan bagaimana sejarah Dia bisa jalan bareng Andri pada saat selesai rapat cheers yang notabene berhasil buat Bella gosong di lapangan basket. Bella hanya bisa mengangguk dan tersenyum melihat polah tingkah sahabatnya yang udah kayak orang kesurupan setan yang lagi kesem-sem. Gak terasa udah nyampe di depan rumah yang didominasi warna putih , bertiang 2 kayu besar di depannya dan terhampar halaman yang sangat luas dihiasi dengan air mancur dan pohon-pohon yang sangat besar dan teduh. Yaps..Rumah itu adalah rumah Mara. Bella sangat senang dengan keadaan dan tata letak rumah itu, walaupun rumah Mara tidak berada di tengah-tengah pusat kota tapi suasananya begitu asri. Suara cempreng Mara membangunkan Bella dari lamunan sesaatnya.
“Bella !” Mara memanggil dengan nada kesal karena mendapati Bella yang sudah dipanggilnya berkali-kali tapi sama sekali tidak menggubris kata-kata Mara. “Iya Mar !! Kenapa ?” Suara Bella terdengar seperti orang linglung. “Lo gak mau mampir Bel ?” Kata Mara sambil membuka pintu mobil Bella. “Ehh.. enggak deh Mar, gue capek Mar. Gue langsung pulang ya! Dadaaah!” Belum sampai Mara menjawab, Bella sudah menutup jendela mobilnya. Secepat mungkin Honda Jazz Bella melejit dan berbelok pada tikungan.
***
Saat sudah sampai di Kamar, Bella mengeluarkan ponselnya dan mendapati 1 message masuk di inboxnya.
From : ARDAN
Udah pulang sekolah belom ? tadi aku kerumah, tapi km belom pulang.
Sekejap mata Bella mendekati layar hape touchscreen nya itu, hatinya senang sekali karena pacar yang di tunggu tunggunya selama 3 minggu tidak pulang, akhirnya datang juga. Pikiran Bella menerawang jauh, apa saja yang akan dia lakukan agar bisa membuat hati pacarnya itu senang pada saat berada di dekatnya. Tak lama kemudian Bella sadar dari lamunan nya. Dengan gerakan lincah jari jari lentik Bella segera berlompat di atas screen untuk membalas sms Ardan. Beberapa menit menanti balasan sms Ardan, Bella mondar mandir lebih dari 3x di antara tempat tidur dan meja rias nya, karena Dia sudah tidak sabar, akhirnya Bella menyerah lalu menyentuh tulisan Kontak pada Layar ponselnya dan mencari cari nama Ardan dan membiarkan satu nada sambung terdengar di telinganya.
“ Ardan ?”
“ Hay Bel, ada apa ?”
Tanpa sadar, Bibir Bella tersenyum lembut mendengar suara Ardan yang baginya pada saat itu adalah suara yang paling merdu dan yang dia nanti-nanti. Benar benar menyegarkan pikiran Bella pada saat itu. Suara Ardan membangunkan Bella dari lamunan sebentarnya.
“Bella ?”
sepertinya Ardan tidak berada di rumah, karena terdengar suara riuh dari belakang Ardan.
“Lagi dimana kamu Dan ? Rame banget?” satu alis Bella mengkerut keatas.
“Eh..aku lagi di rumah temen Bel, tiba tiba aja tadi temen ku telepon trus aku diajak nongkrong!” suara Ardan terdengar lembut tapi jelas dan tegas.
Selalu begitu , disaat Ardan sudah berada di antara teman temannya dia pasti lupa dengan semua hal tentang Bella, bahkan untuk sekedar membalas SMS Bella saja, Ardan tidak mau. Momen momen yang diharapkan Bella pas Ardan pulang sepertinya retak begitu saja.
“ Yaudah Dan, okelah kalo gitu. Have Fun ya !” Bella lemas dan suaranya terdengar parau.
KLIK ..
Lagi lagi Ardan memutus teleponnya begitu saja, tanpa sedikit pun menenangkan hati Bella. Bella menurunkan ponselnya dan melemparkan pelan ke meja nakasnya. Setelah telepon itu Bella hanya tertunduk lemas dan duduk di kasur nya. Dia berfikir kesana-kemari berfikir keras dan menduga-duga hal apa saja yang sedang dilakukan Ardan diluar sana.
Bella merebahkan tubuhnya di kasur. Bella merasa sangat lelah, badannya pegal pegal ditambah otaknya harus berfikir keras tentang hubungan dia dengan Ardan dan menduga-duga hal apa yang dilakukan Ardan ketika sedang bersama teman temannya. Apakah aku terlalu cinta kepada Ardan, sehingga untuk membiarkan Dia bersama teman temannya pun Aku tak rela. Memang iya aku sangat mencintai Ardan, aku tidak ingin Dia pergi meninggalkan Aku.Pikiran itu yang selalu mengisi otak Bella.
***
Bella duduk di depan Televisi yang hidup. Walaupun televisi itu menyuguhkan acara film kartun yang biasanya Bella sukai tapi pikiran Bella jauh menerawang melewati Televisi itu. Entah kemana arah pikiran Bella. Bella tersenyum ketika mengingat kejadian pertama kali dia bisa berkenalan dengan Ardan. Bella yang pada saat itu adalah adik kelas Ardan mendapat hukuman khusus dari para senior pada saat kegiatan MOS. Dari pertama Bella memandang Ardan, Bella merasa ada yang berbeda dengan hatinya, tetapi dia tidak mau mengharap lebih pada saat itu. Tapi kenyataan berkata lain, Ardan menunjukkan gelagat-gelagat tidak sewajarnya kepada Bella. Ardan juga sukses mendapatkan nomor hape Bella dari sahabatnya sendiri yaitu Mara dan pada akhir nya Ardan bilang Cinta kepada Bella, Bella pun menerimanya. Bella hanya tersenyum lemas ketika Dia membayangkan hal itu. Tiba-tiba Bella terkaget dengan getar handphonenya, secepat kilat tangan Bella meraih ponselnya dan melihat siapa yang menelpon Bella, dalam hatinya Bella berharap jika Ardan yang menelepon dia. Ternyata benar wajah Bella berbinar-binar melihat nama kontak penelpon handphone nya tersebut.
“Hallo, Ardan !”
“Iya Bel, ini aku. Malem ini ada acara gak ?”
Bella tersenyum riang mendengar perkataan Ardan dia berharap jika nanti malam Ardan akan mengajaknya keluar walaupun hanya sebentar , tapi setidaknya bisa mengobati rasa kangen Bella kepada Ardan.
“Emm.. gak ada dan ! kenapa ?” jawab Bella secepat mungkin.
“Aku mau ngajak kamu makan malem sama mama aku, kamu mau ?”
Mata Bella terbelalak. Bella kaget mendengar perkataan Ardan. Bella kaget bukan karena Bella sedih, tapi karena Bella gugup. Lama berfikir panjang membuat Ardan bingung.
“Hallo.. Bel ,, Bella !”
“Iya Dan!”
“Kamu gak bisa ya ?” suara Ardan merendah
“Ehm.. bisa kok Dan, bisa ! mau makan malem dimana ?” Jawab Bella terbata-bata
“Ada deeh pokoknya, ntar Aku jemput kamu ya jam 7 ! ok. !”
KLIK ..
Dan seperti biasa , Walopun Bella senang dengan kabar yang disampaikan Ardan tapi Bella tetap kesal dengan perilaku Ardan yang selalu menutup telepon sembarangan tanpa memperdulikan orang itu akan bicara atau tidak. Well, hal itu tidak membuat Bella kesal berkepanjangan, dia segera bergegas ke rumah Mara. Karena Bella tau betul Mara adalah cewek yang gila fashion dan suka banget dandan.
***
Setibanya di rumah Mara, Bella mendapati si pemilik rumah sedang berjelajah Online shop di beberapa situs. Tanpa Mara sadari Bella sudah berada di belakangnya. Bella berniat ingin mengagetkan cewek berkulit putih itu.
“Woooiiii”!
“Gila loh, Bel. Tiba tiba nongol dikamar gue aja loh! Untung gue gak jantungan, kalo gue punya jantung terus gue mati, kan elo juga yang rugi, gak punya temen yang paling cantik paling pinter, segalanya deh!” cerocos Mara sampai bibirnya maju 3cm.
Bella tertawa lepas mendengar cerocos gak jelas sahabatnya itu.
“Eh non, udah yee,, gue kesini bukan mau denger cerocosan elo ! gue minta lo dandanin gue, jam 7 ntar gue mau makan malem sama mama nya Ardan!”
Bella berjalan ke arah Meja Rias Mara dan berkaca , memandangi wajahnya. Dia masih membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam ketika dinner dengan calon mertuanya itu. Dari tadi setelah telepon Ardan ditutup, tangan Bella berkeringat dingin, wajahnya pucat, dan seluruh persendiannya terasa ngilu.Semakin Bella bingung, semakin dia gugup.
“Bel, kok tumben si Ardan baek banget sama lo ?” Muka Mara berarah pada makhluk yang sedang ada di belakangnya itu, tangannya bersedekap.
“Mana gue tau Ra, tadi tiba-tiba aja Ardan telpon gue terus dia bilang itu, kok kayaknya lo gak seneng banget sih Ra ?” Satu alis Bella terangkat ke atas dan tangan kanan nya berada di dagu, sedangkan tangan kirinya menopang tangan kanannya.
“Ya bukannya gue gak suka Bel, seneng malahan gue, tapi kan lo biasanya berantem terus!! Yaudah deh yaa.. yaudah, gue punya dress bagus Bel buat acara lo ntar !” Mara berjalan ke arah lemari 3 pintu berwarna putih. Dia mengambil beberapa dress yang terpajang rapi di dalam lemarinya itu. Setelah sekiranya cukup, Mara berbalik badan dan menunjukkan kepada Bella.
Yang pertama adalah Blouse berwarna biru muda dan didominasi warna putih susu. Bella
menggedek ke arah Mara. Yang Kedua mini dress berwarna coklat tua dan ada pita besar pada bagian belakangnya. Lo pikir gue anak TK. Itu yang ada di batin Bella. Bella pun menggedek lagi. Dan yang ketiga adalah Mini Dress berwarna putih dan terdapat lilittan pita emas pada bagian pinggangnya. Bella ternganga melihat baju tersebut.
“Kayaknya gue suka ini Ra !”
Belum sampai Bella sadar betul karena terpesona dengan gaun tersebut. Mara sudah menarik tangan Bella ke depan Meja Riasnya.
***
Bel rumah Bella berbunyi. Tepat pada pukul 7 kurang 10 menit. Bella berjalan menuju ruang tamu dan membukakan pintu. Ardan menatap Bella lekat-lekat, Ardan tak percaya bahwa wanita yang sekarang berdiri di hadapannya adalah Bella. Bella yang pada saat itu memakai Mini Dress Putih berlilit pita emas pada pinggangnya, wajahnya dirias se simple mungkin, pada matanya tergores sedikit make-up cokelat bola matanya juga memakai softlens berwarna coklat, sedangkan rambutnya dibuat sedikit berombak pada bagian ujungnya saja, membuat kesan dewasa pada wajah Bella , Bandana putih juga terselip di antara rambutnya. Ardan ternganga melihat penampilan Bella.
“Dan, gue jelek ya, apa gak pantes, aneh ya gue !”Wajah Bella berubah murung, dia pun menunduk. Tangan Ardan menyentuh dagu Bella, dan memandangi wajah cantik Bella.
“Gak pernah aku duga kalo pacar ku bisa secantik ini ! you’re so beautiful this night !” Ardan tersenyum simpul.
“Ooh.. jadi menurut kamu selama ini aku jelek ?” Bella manyun.
“idiih ngambek !” Ardan nyengir. “Walopun kamu jelek, aku tetep sayang kamu!”tambah Ardan, Mata Ardan menatap lekat mata Bella. Wajah Ardan semakin mendekati wajah Bella. Hanya tinggal 10 senti dari wajah Bella. Bella mengagetkan Ardan. “Tapi sama aja tetep jelek!”Sahut Bella. Bella memukul bahu Ardan. “Yaudah,berangkat yuk sayang!” tangan kiri Ardan menawarkan gandengan kepada Bella, Bella pun menanggapinya. Bella merasakan keretakan hubungannya dengan Ardan sudah terbayar dengan kejadian malam itu.
wuakakakaka....kisah pribadi ya bel??wkwkwkwk -__-
BalasHapus